Sejarah dan Eksistensi Muhammadiyah di Bone -->

Advertisement 970x90px

Sejarah dan Eksistensi Muhammadiyah di Bone

9 Des 2019

Sejarah dan Eksistensi Muhammadiyah di Bone
Bermulah masuknya Organisasi atau Lembaga Muhammadiyah di Bone pertama kali para tokoh menginjakkan kaki di wilayah tepatnya Kecamatan Mare, pada saat itu Kecamatan Mare menjadi sorotan pusat pendidikan. Kedatangan dan penyebaran ajaran Muhammadiyah saat itu tidaklah instan diterima dan diasumsi oleh masyarakat sebagaimana membolak balikkan telapak tangan, namun membutuhkan sebuah perjuangan dan kerja keras, dalam hal ini gerakan yang prioritas dilakukan ialah pernyampaian dakwah dimana dakwah ini adalah sebuah bentuk pencerahan, jadi tentu sorotannya tidak lain tidak bukan adalah perkembangan Islam. Namun tetap saja proses perjalanan ijtihad dai Muhammadiyah pada saat itu hanyalah di pandang sebelah mata oleh masyarakat lokal pada umumnya, kadangkala seringkali terjadi penolakan ketika hendak melangsungkan dakwah, tutur Pak Tahir.

Terindikasi bahwa jauh sebelum Muhammadiyah hadir di Bone memang sudah ada kepercayaan yang telah mendarah daging didalam diri masyarakat umat beragama khususnya Islam sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing. Jadi ketika diperhadapkan sesuatu hal yang baru, tentunya akan merasa terancam, tersaingi, dan tergoyahkan keyakinan fundamental mereka, sehingga proses perkembangan Muhammadiyah telah dikabuti kesenjangan, pertentangan dan tendensi sosial. Tetapi semangat dan niat kesungguh-sungguhan tetap konsisten diperlihatkan orang-orang Muhammadiyah demi terwujudnya Islam yang sebenar-benarnya. Rintangan di setiap zaman berbeda-beda telah di lalui. Olehnya itu justru hal inilah yang lebih memperkuat diri individu dan lebih memperkokoh Muhammadiyah secara Lembaga.

Harapan besar Muhammadiyah langkah demi langkah terus berlanjut dilakukan, selain semangat dakwah disisi lain telah melebarkan sayap dengan membentuk akses perkembangan yaitu amal usaha (pendidikan) kesemuanya ini merupakan aset Muhammadiyah dan menjadi sebuah pilihan, melalui pendidikan inilah sebagian besar masyarakat Bone mulai bergembira dan tercerahkan didalam memahami ajaran agama Islam. Paham Muhammadiyah bukanlah paham yang menganggap budaya adalah suatu kekeliruan atau hal yang syirik, justru menganggap budaya itu harus dilestarikan selama budaya itu sendiri tidak melenceng dari syariat Islam.

Intisari kata Muhammadiyah secara bahasa ialah pengikut / umat Nabi Muhammad SAW, tidak ada alasan bagi mereka untuk mengelah tidak mengakui bahwa umat Islam pada umumnya adalah pengikut Muhammad, maka sejatinya penganut ajaran agama Islam secara makna adalah Muhammadiyah. Karenanya paham Muhammadiyah sudah mulai menular dan juga dipahami oleh masyarakat hingga yang tadinya dengan tegas menolak dia pulalah berlapang dada lebih dulu menerima, meminta dan agresif untuk terlibat dalam diberbagai kegiatan kegiatan mulia Muhammadiyah.

Kelancaran misi menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakaat Islam yang sebenar-benarnya. Esensi misi atau tujuan tersebut merupakan sebuah proses, kata Pak Tahir sebagai ketua Muhammadiyah Bone, bahwa setelah perjuangan saya, akan ada perjuangan regenerasi selanjutnya. Peningkatan selalu akan ditindak lanjuti apalagi eksistensi Muhammadiyah di daerah Bone sudah diterima sampai tingkat elit. Karna memang para tokoh-tokoh Muhammadiyah dominan telah membangun komunikasi yang baik khususnya terhadap pemerintah daerah serta menjalin dan saling merangkul dari beberapa tokoh lembaga lain yang ada, diantaranya NU, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh sampai keakar lapisan masyarakat.

Melalui potensi potensi pendidikan, tokoh Muhammadiyah: pak Tahir sendiri mengatakan bahwa 60-70 % guru yang mengajar di sekolah mulai dari SD, SMP, hingga tingkatan SMA itu merupakan alumni yang beriman, cakap, dan profesiaonal dari kampus Muhammadiyah. Mereka sama sekali tidak punya alasan untuk tidak mengakui jikalau pengaruh muhammadiyah patutlah kita semua jadikan salah satu bentuk kesyukuran besar. Begitupun sebaliknya dari Muhammadiyah bersyukur Alhamdulillah karena dengan kehadirannya tidaklah dianggap lagi sebagai persoalan. (BCM.Asnur)